Basarnas Ternate membekali jurnalis Maluku Utara dengan keterampilan dasar water rescue melalui pelatihan khusus di Pantai Sulamadaha, Ternate. Inisiatif tersebut menyasar insan pers yang kerap bertugas di wilayah pesisir, laut terbuka, dan lokasi kejadian darurat. Pembekalan berlangsung di kawasan wisata Pantai Sulamadaha, Kota Ternate, dengan fokus pada keselamatan sebelum jurnalis melakukan peliputan. Kegiatan tersebut diklaim sebagai pembekalan water rescue pertama di Indonesia yang secara khusus menyasar kalangan jurnalis.
Pelatihan dibuka oleh Kepala Basarnas Ternate, Iwan Ramdani, pada Minggu, 8 November 2026, dengan menempatkan keselamatan peliput sebagai prioritas. Menurut Iwan, kondisi geografis Maluku Utara menuntut kewaspadaan tinggi karena wilayahnya terdiri atas pulau-pulau dengan perairan luas.
Jangan sampai saat menjalankan tugas menyampaikan informasi ke masyarakat, justru awak media menjadi korban peristiwa yang sedang diliput.
— tegas Iwan Ramdani
Risiko Peliputan di Perairan Menuntut Water Rescue
Mobilitas antarpulau yang tinggi membuat keselamatan laut menjadi perhatian penting bagi masyarakat, termasuk jurnalis yang bertugas di lapangan. Para pewarta kerap mendatangi pesisir, perairan, hingga titik bencana, sehingga berhadapan langsung dengan ancaman cuaca buruk dan gelombang tinggi. Arus laut yang berubah serta kecelakaan kapal juga dapat menciptakan situasi berbahaya ketika proses pengumpulan informasi berlangsung. Dalam kondisi tersebut, bekal water rescue membantu jurnalis mengenali risiko, menjaga jarak aman, dan menentukan respons awal secara terukur.
Pengalaman Insiden Mendorong Pembekalan Keselamatan
Urgensi pembekalan turut berkaitan dengan pengalaman kecelakaan yang pernah menimpa jurnalis saat menjalankan tugas peliputan operasi pencarian. Iwan menyinggung almarhum Sahril Helmi, jurnalis Metro TV, serta insiden yang melibatkan 5 jurnalis di Banten. Pengalaman tersebut mendorong Basarnas Ternate memperluas pemahaman keselamatan dasar agar awak media tidak mengambil risiko tanpa persiapan.
Pelatihan Menekankan Perlindungan Diri, Bukan Penyelamatan
Iwan menegaskan, pelatihan ini tidak dirancang untuk mengubah jurnalis menjadi personel penyelamat profesional atau menggantikan fungsi tim SAR. Materi justru membekali peserta agar mampu melindungi diri, membaca tanda bahaya, serta menghubungi petugas ketika keadaan darurat muncul. Prinsip tersebut menempatkan keselamatan pribadi sebagai langkah pertama sebelum jurnalis mendekati area insiden untuk mengumpulkan keterangan. Basarnas juga mengingatkan, tindakan yang keliru dapat memperbesar jumlah korban dan menyulitkan proses penanganan oleh petugas penyelamat.
Water Rescue Menguatkan Kesiapan Jurnalis
Pembekalan diarahkan pada kemampuan mengenali ancaman, menerapkan prinsip keselamatan penolong, dan memilih tindakan awal sesuai kondisi lapangan. Peserta juga diperkenalkan pada penggunaan alat bantu pertolongan serta teknik bertahan hidup ketika menghadapi keadaan darurat di laut. Melalui materi water rescue, Basarnas ingin memastikan jurnalis memahami batas kemampuan diri sebelum berkoordinasi dengan tim penyelamat.
Lima Sasaran dalam Kurikulum Pembekalan
Kepala Seksi Sumber Daya Basarnas Ternate, A.M. Akbar, menjabarkan lima sasaran utama yang menjadi landasan penyelenggaraan pelatihan. Kelima sasaran itu memadukan literasi risiko, keterampilan praktis, kemampuan bertahan, serta koordinasi antarpihak saat menghadapi insiden. Rangkaian tersebut diharapkan membangun kesadaran keselamatan tanpa mengaburkan peran utama petugas dalam operasi pencarian dan pertolongan.
Lima sasaran pembekalan tersebut meliputi:
- Pemahaman konsep dasar dan risiko kecelakaan di perairan.
- Penerapan prinsip keselamatan bagi penolong.
- Keterampilan dasar mengakses pertolongan menggunakan alat bantu.
- Kemampuan bertahan hidup di laut (free survival).
- Penguatan sinergi insan pers dengan tim SAR terpadu.
Instruktur Bersertifikat Pimpin Praktik Lapangan
Empat instruktur Basarnas Ternate yang mengantongi sertifikasi resmi Water Rescue membimbing peserta sepanjang rangkaian pembekalan berlangsung. Penyelenggara menggabungkan dialog, demonstrasi, praktik berbasis stasiun, dan simulasi langsung untuk mempertemukan pemahaman dengan pengalaman. Melalui tahapan tersebut, peserta tidak hanya menerima penjelasan, tetapi juga mencoba keterampilan dasar dalam situasi latihan. Kegiatan kemudian ditutup dengan penyerahan sertifikat sebagai tanda partisipasi peserta setelah mengikuti seluruh rangkaian pembekalan.
Program ini membuka ruang kolaborasi antara jurnalis dan Basarnas, terutama dalam membangun budaya peliputan yang memperhitungkan keselamatan. Bekal dasar tersebut diharapkan membantu awak media mengambil keputusan lebih bijak ketika bertugas di sekitar perairan berisiko. Pada akhirnya, keselamatan peliput dan kelancaran operasi SAR membutuhkan kesadaran bersama, disiplin lapangan, serta komunikasi yang terarah.

Leave a Reply