Pengamat politik dan militer dari Universitas Nasional, Selamat Ginting, menjelaskan mengapa peradilan militer sering dianggap sistem yang keras dan tegas dalam menangani kasus anggota militer. Bahkan dianggap kejam oleh sebagian masyarakat.
Hal tersebut disampaikan secara gamblang dalam sebuah diskusi publik yang bertajuk Mengapa Peradilan Militer Itu Kejam? yang digelar di kawasan Cipayung, Jakarta Timur, pada Kamis, 23 April 2026. Menurut penuturan Selamat, persepsi negatif tersebut muncul karena adanya ancaman hukuman yang sangat berat dalam sistem peradilan militer.
Mencakup sanksi yang berkisar dari penjara seumur hidup hingga hukuman mati, yang menimbulkan ketakutan bagi banyak pihak. Namun, ia menegaskan kerasnya hukum militer tidak dapat dilepaskan dari karakter organisasi militer yang bekerja dalam situasi ekstrem. Seperti perang dan krisis.
“Militer dirancang untuk menghadapi situasi hidup dan mati. Kesalahan kecil bisa berdampak besar, sehingga hukum menjadi bagian dari sistem pertahanan,” kata Selamat melalui keterangan tertulis, Jumat, 24 April 2026.
Ia menjelaskan bahwa berbeda dengan masyarakat sipil yang biasa toleran terhadap kesalahan, militer menuntut kepastian dan ketepatan mutlak dalam setiap tugas. Dalam militer, kesalahan kecil bisa berdampak besar, jadi ketelitian dan ketaatan sangat penting dan tidak boleh diabaikan.
Disiplin Perintah Selalu Diutamakan

Disiplin yang tegas dan rantai komando yang terstruktur menjadi fondasi utama yang sangat penting dalam setiap organisasi maupun operasi. Setiap perintah dari atasan wajib dilaksanakan dengan penuh kepatuhan tanpa kompromi. Hal ini sangat berkaitan langsung dengan keberhasilan dan kelancaran seluruh operasi yang sedang berlangsung.
Selamat mencontohkan, tindakan desersi atau meninggalkan tugas tanpa izin dalam militer dapat menimbulkan konsekuensi serius dan berbahaya. Bahkan dapat menciptakan celah ancaman serius terhadap keamanan dan stabilitas negara secara menyeluruh.
“Dalam konteks perang, desersi bisa dianggap pengkhianatan karena berpotensi membahayakan pasukan dan mengungkap rahasia strategis,” ungkap Selamat.
Selain itu, pelanggaran perintah operasi bisa menyebabkan kegagalan misi dan konsekuensi serius yang merugikan. Dampak pelanggaran tidak hanya dirasakan individu, tetapi juga memengaruhi kinerja dan reputasi satuan secara keseluruhan. Bahkan hingga berimbas pada kepentingan dan keamanan negara secara luas.
Sifat Informasi Dalam Dunia Militer
Dalam dunia militer, menurutnya, informasi memiliki nilai strategis yang sangat tinggi. Kebocoran data bisa menjadi ancaman serius bagi keamanan negara, sehingga pelanggaran terkait rahasia militer dikenai hukuman yang berat. Ia juga menekankan perbedaan perlakuan hukum antara masa damai dan masa perang.
Pelanggaran yang biasanya dianggap ringan dalam kondisi normal bisa berubah menjadi kejahatan serius saat terjadi konflik. Menurut Selamat, pandangan tegas terhadap peradilan militer juga dipengaruhi oleh faktor sejarah, terutama ketika militer berperan dalam mengatasi ancaman terhadap kedaulatan negara.
Namun, ia menekankan pentingnya menjaga keseimbangan antara penegakan disiplin dan penerapan prinsip hukum yang adil.
“Yang menjadi tantangan adalah memastikan penerapan hukum tetap proporsional, akuntabel, dan berada dalam koridor negara hukum,” ujar Selamat.

Leave a Reply