Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kudus di Jawa Tengah sudah menyiapkan dua mobil tangki air dan 12 tandon air, masing-masing kapasitasnya 2.500 liter.Langkah ini diambil sebagai bentuk antisipasi dan persiapan menghadapi dampak kekeringan yang berpotensi terjadi di wilayah tersebut. Dengan adanya armada dan peralatan ini, diharapkan kebutuhan air masyarakat dapat terpenuhi meskipun kondisi kekeringan melanda.Upaya tersebut sebagai salah satu cara mengatasi kesulitan air bersih warga desa setempat.
“Nantinya tandon air ‘mobile’ tersebut bisa ditempatkan di sejumlah desa yang warganya mengalami kesulitan air bersih,” kata Kepala Pelaksana Harian BPBD Kabupaten Kudus Eko Hari Djatmiko di Kudus, Jumat, 24 April 2026.
Dengan tandon air tersebut, dia sangat berharap seluruh warga desa tidak lagi menunggu lama hingga distribusi air dari BPBD tiba. Warga cukup mengambil air langsung dari tandon air yang sudah disediakan dengan baik di desanya. Sehingga kebutuhan akan air bersih bisa terpenuhi dengan lebih cepat tanpa harus bergantung pada jadwal distribusi dari pihak luar.
Persiapan BPBD Kudus

Sementara itu, untuk kegiatan droping air bersih, BPBD Kudus telah menyiapkan dua armada truk tangki yang siap digunakan. Armada pertama memiliki kapasitas tangki sebesar 5.000 liter, sedangkan armada kedua memiliki kapasitas tangki sebesar 3.000 liter. Kedua truk tangki ini sangat penting dalam mendukung distribusi air bersih kepada masyarakat yang membutuhkan.
Belum termasuk bantuan dari pihak lain, seperti PDAM Kudus maupun perusahaan swasta. Untuk daerah rawan kekeringan, antara lain di sejumlah desa di Kecamatan Undaan, Kaliwungu, Mejobo, dan Jekulo. Desa-desa yang dulu sering kesulitan air bersih saat kemarau panjang sekarang beberapa sudah mulai mengambil langkah antisipasi sendiri.
Mereka sudah membuat dan menjalankan program penyediaan air minum dan sanitasi yang melibatkan masyarakat setempat, yang disebut Pamsimas. Program ini diharapkan dapat membantu mengatasi kekurangan air dan meningkatkan kualitas hidup warga desa secara terus-menerus.
Koordinasi Lintas Sektor Antisipasi
Sementara itu, Bupati Kudus Sam’ani Intakoris menambahkan selain kesiapan BPBD, Pemkab Kudus juga mengantisipasi potensi musim kemarau ekstrem dengan berkolaborasi lintas sektor, mulai dari PDAM hingga sektor swasta untuk memastikan ketersediaan air bersih di daerah terdampak.
“Upaya ini difokuskan pada titik-titik rawan kekeringan agar distribusi bantuan air dapat dilakukan secara efektif,” ujarnya.
Pemerintah daerah telah berkoordinasi dengan berbagai pihak, mulai dari organisasi perangkat daerah (OPD) terkait, PDAM, kecamatan, pemerintah desa, hingga sektor swasta untuk memastikan ketersediaan air bersih.
Daerah Rawan Kekeringan
Beberapa daerah seperti Kecamatan Kaliwungu dan Undaan diperkirakan akan terkena dampak kekeringan kali ini, meskipun daerah lain disekitar tetap diawasi. Pemerintah Kabupaten Kudus terus mendorong setiap desa untuk aktif menyiapkan cadangan air sendiri, misalnya dengan membuat tandon air. Juga melalui program Pamsimas yang bertujuan meningkatkan akses masyarakat terhadap air bersih dan pengelolaan air yang lebih baik.
“Kalau desa sudah siap secara mandiri, itu justru lebih baik. Pemerintah tinggal memperkuat dan membantu jika dibutuhkan,” ujar Sam’ani.

Leave a Reply